Yeeeeeyy!!! Akhirnya liburan semester yang ku nantikan tiba juga. Sudah lama rasanya tak merasakan hiruk pikuk dunia luar. Namun jangan jadikan liburan semester ini sebagai alasan untuk meninggalkan segala kebiasaan baik yang biasa aku lakukan di asrama selama 6 bulan terakhir. Tugas liburan semester kali ini adalah KKN di sekolah asalku. Liburan kok KKN sih, gak asik dong? Siapa bilang hanya karena KKN liburan menjadi gak asik? Itu presepsi yang salah, justru ini menjadi kesempatan berharga bagiku untuk mendapatkan pengalaman dengan terjun langsung ke sekolah guna mengasah kemampuanku dalam mengajar, walaupun aku baru semester satu.
Salah satu program yang menjadi unggulan STKIP Al Hikmah adalah KKN tiap semester. Ini bertujuan untuk membentuk jiwa keguruan yang profesionalis dan mengetahui perkembangan pendidikan di Indonesia saat ini. Secara pribadi aku pun sangat mendukung program ini, karena banyak manfaat yang didapatkan. Kembali ke sekolah dimana aku menghabiskan masa anak-anak, sungguh aku ingin bernostalgia disana. Aku rindu guru-guruku, kantin, teman-teman dan segala sesuatu yang ada disana.
Ku tatap dalam-dalam gerbang SDN Kalipecabean, ku bayangkan, sungguh ini bukanlah tempat yang asing bagiku. Ayo Dhani, tak perlu ragu untuk melangkah, pasti bisa. Sungguh aku pasti bisa, aku tak perlu mengkhawatirkan statusku sebagai mahasiswa yang baru seumur jagung. Semester satu? Apa masalahnya? Justru ini sangat bermanfaat, terlebih aku sebagai calon guru SD. Aku ingat betul apa yang pernah dikatakan oleh Ustadzah Lina bahwa PGSD ini berbeda dari prodi yang lainnya, kita itu istimewa. Mempelajari banyak hal yang hanya ada di prodi ini. Dan aku merasa semua yang beliau katakan itu benar adanya setelah aku terjun langsung ke lapangan atau lebih tepatnya KKN. Dari sinilah kisahku akan dimulai.
***
Senin, 15 Januari 2018. Hari pertamaku untuk melakukan observasi sekaligus kesempatan bagiku untuk menambah wawasanku. Sekolah ini tampak begitu familiar, tak asing lagi bagiku. Walaupun hanya setahun aku menghabiskan waktu disini, banyak kenangan berharga yang membekas dalam ingatanku. Setiap jengkal yang ada didalamnya sangatlah berarti untukku. Kini aku kembali lagi ke sekolah ini, bukan sebagai siswa, namun sebagai calon guru yang akan melahirkan generasi masa depan penerus bangsa.
“Selamat pagi pak.”, ku sapa satpam dengan senyuman hangat. Beliau pun membalas senyumanku dengan senyuman ramah. Oke, yang pertama aku harus menemui kepala sekolah terlebih dahulu. Ruang kepala sekolah berada persis di sebelah ruang guru. Beliau menyambut ramah kehadiranku dan mempersilahkanku duduk. Bu Anik sapaan karib beliau, Bu Anik sudah mengetahui apa maksud dan tujuanku datang kemari karena beberapa hari sebelumnya aku sudah mengatarkan surat pengantar dari kampus dan menjelaskan secara singkat kepada beliau. Bu Anik memberikan keleluasaan padaku untuk bebas memilih kelas mana saja yang ingin aku masuki, dengan senang hati aku pun mengiyakannya.
Ku putuskan untuk mencoba di kelas awal terlebih dahulu, lebih tepatnya kelas 1A. Pertama kali aku memasuki kelas ini, suara gaduh begitu jelas terdengar. Anak-anak berlarian dari sudut ke sudut, dari bangku ke bangku yang lainnya. Aku hanya terkekeh melihat tingkah mereka. Aku pun menyempatkan diri untuk bertanya-tanya kepada wali kelas untuk sekedar mengetahui karakter anak-anak di kelas ini. Tak banyak yang aku lakukan di kelas ini, hanya sesekali aku mengajak dua tiga dari mereka berbicara. Malu-malu, begitu jelas terlukis oleh raut wajah mereka.
Aku begitu terenyuh mendengar penjelasan dari wali kelas bahwa ada empat siswa yang belum bisa membaca atau belum lancer membaca, sehingga mereka membutuhkan perhatian lebih agar mampu mengimbangi siswa yang lainnya. Secara umum memang tidak begitu ada perbedaan mencolok antara mereka dengan siswa yang lainnya. Tingkah anak-anak itu begitu menggemaskan, terkadang mereka membuat tingkah konyol yang dapat menimbulkan gelagak tawa bagi siapapun yang melihatnya. Mereka sangat antusias memperhatikan guru mengajar itupun dapat dihitung jari, sebagian besar dari mereka terkadang sibuk sendiri dengan aktifitasnya masing-masing.
***
Oke, kelas 1A sudah cukup bagiku. Aku sudah mendapatkan sedikit gambaran seperti apa kondisi kelas yang menurut asumsi pribadiku masih belum bisa meninggalkan kebiasaan mereka di TK. Aku dapat memaklumi itu. Masih di ruang kelas yang sama dengan wali kelas yang sama pula namun dengan siswa dan kelas yang berbeda. Kelas 2A, dengan jumlah siswa SDN Kalipecabean yang melebihi kapasitas ruang kelas sehingga memaksa mereka untuk bergantian. Ada beberapa ruang kelas yang digunakan bersama, itu untuk mengakali kurangnya jumlah ruang kelas. Pagi untuk kelas 1 dan siangnya untuk kelas 2.
Di kelas 2 yang secara usia mereka lebih matang dibandingkan dengan kelas 1, wajar jika mereka sudah mampu untuk membedakan saatnya belajar dan bermain walaupun terkadang mereka juga masih sibuk sendiri saat guru mengajar. Pengalaman berharga yang aku dapatkan di kelas ini yaitu saat aku praktik membuka pembelajaran. Kendala terbesar yang menjadi penghalangku mungkin sama seperti teman-teman yang lainnya saat pertama kali tampil di depan anak-anak. Perasaan canggung, takut salah dan sulitnya mengontrol kondisi kelas. Aku pun sebisa mungkin untuk meminimalisir kesalahan-kesalahan yang dapat mengurangi rasa percaya diriku.
Tak begitu banyak kendala memang saat aku praktik membuka pembelajaran, itu semua karena semalam sebelum hari ini aku berlatih di depan cermin. Ya aku berlatih dengan menatap bahasa tubuhku sendiri di depan cermin, aku ingin tampil maksimal. Wali kelas pun cukup kaget, dengan statusku sebagai mahasiswa semester satu yang sudah mampu untuk bisa tampil profesional dalam membuka pembelajaran.
***
Ini adalah kali pertama bagiku diberi amanah untuk mengajar full sehari oleh wali kelas. Tidak tanggung-tanggung, kelas yang aku ajar hari ini adalah kelas 5. Tentunya aku siap, seperti yang telah disampaikan oleh Ustadz Faishol, kita harus selalu siap jika diberi amanah untuk mengajar. Dan ini adalah momen yang tepat bagiku untuk menambah pengalaman. Oke Dhani, ini bukanlah masalah bukan? Sekali lagi ku teguhkan hati, aku pasti bisa.
“Assalamuallaikum.wr.wb.”, dengan semangat ku ucapkan.
“Waallaikumsalam.wr.wb.”, mereka semua menjawab serentak.
Ku awali pembelajaran pada hari itu dengan memperkenalkan diriku terlebih dahulu dan melakukan pendekatan agar lebih akrab dengan mereka. Mereka pun tampak begitu antusias sejak awal aku memasuki kelas. Sesuai dengan yang aku harapkan, dengan seperti ini akan memudahkanku pada saat aku menyampaikan materi nantinya. Aku pun tidak memaksakan mereka untuk terus belajar, belajar dan belajar. Itu akan sangat membosankan bagi mereka, terlebih untuk pelajaran matematika seperti sekarang ini. Walaupun pembelajaran dan penyampaian materi sudah aku buat semenarik mungkin.
Berbekal apa yang telah aku pelajari di kampus, maka ku keluarkan jurus andalanku. Tepuk lima jari, tepuk tangan sambil bernyanyi yang aku populerkan di kampus khususnya di prodi PGSD. Bukan hal baru sih, namun ini cukup menarik untuk dilakukan ketika pembelajaran dirasa begitu kaku. Ini bertujuan untuk merefresh pikiran mereka agar tidak telalu tertekan. Pengalaman mengajar yang pertama bagiku ini akan ku jadikan sebagai evaluasi diri bagiku, masih banyak yang perlu dibenahi dan aku tidak akan berhenti dan terus berusaha untuk menjadi lebih baik dari hari ini.

Komentar
Posting Komentar